Cara Menghitung Pph Terutang

Advertisements
Advertisements

Tidak ada yang menginginkan rumitnya menghitung Pph terutang, terlebih lagi bagi mereka yang awam dengan dunia perpajakan. Namun, sebenarnya ada tips yang dapat membuat proses ini jauh lebih mudah dan efektif. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa tips menghitung Pph terutang dengan cara yang sederhana namun tetap menghasilkan perhitungan yang akurat. Apakah Anda ingin tahu apa tipsnya? Mari kita simak selengkapnya!

$title$

Cara Menghitung Pph Terutang

Pengertian Pph Terutang

Pph terutang adalah jumlah pajak penghasilan yang harus dibayarkan oleh seorang individu atau perusahaan kepada pemerintah. Hal ini dihitung berdasarkan pendapatan yang diterima dan tarif pajak yang berlaku. Pph terutang merupakan kewajiban pajak yang harus dipenuhi oleh setiap wajib pajak, baik itu perseorangan maupun badan usaha. Pembayaran Pph terutang memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan penerimaan negara dan membiayai berbagai program pembangunan yang dicanangkan pemerintah.

Komponen Penghitungan Pph Terutang

Penghitungan pph terutang melibatkan beberapa komponen yang harus diperhatikan dengan seksama. Pertama, penghasilan bruto menjadi titik awal dalam perhitungan ini. Penghasilan bruto adalah total pendapatan yang diterima oleh individu atau perusahaan dalam satu tahun, termasuk gaji, bonus, tunjangan, dan pendapatan lainnya yang diperoleh dalam bentuk apapun. Setelah itu, pengurangan penghasilan tidak kena pajak juga perlu diperhatikan. Penghasilan tidak kena pajak adalah tunjangan atau penghasilan lainnya yang tidak dikenakan pajak oleh pemerintah. Contohnya adalah tunjangan keluarga dan tunjangan hari raya. Kemudian, pengurangan penghasilan kena pajak juga harus dihitung. Penghasilan kena pajak adalah pendapatan yang masih dikenakan pajak setelah pengurangan penghasilan tidak kena pajak. Beberapa contoh penghasilan kena pajak antara lain tunjangan jabatan dan penghasilan yang sudah dikenakan pajak sebelumnya.

Langkah-langkah Menghitung Pph Terutang

1. Menghitung Penghasilan Bruto

Penghasilan bruto adalah jumlah total pendapatan yang diperoleh oleh individu atau perusahaan dalam satu tahun. Penghasilan bruto bisa terdiri dari berbagai sumber, seperti gaji, bonus, tunjangan, dan pendapatan lainnya. Untuk menghitung penghasilan bruto, Anda perlu menambahkan semua pendapatan yang diperoleh selama setahun.

Contoh: Jika seseorang memiliki gaji bulanan sebesar 10 juta rupiah dan menerima bonus tahunan sebesar 20 juta rupiah, maka penghasilan bruto dalam setahun adalah 10 juta x 12 bulan + 20 juta = 140 juta rupiah.

2. Mengurangkan Penghasilan Tidak Kena Pajak

Setelah menghitung penghasilan bruto, langkah selanjutnya adalah mengurangkan penghasilan yang tidak kena pajak. Penghasilan tidak kena pajak adalah tunjangan atau penghasilan lainnya yang tidak dikenakan pajak oleh pemerintah. Beberapa contoh penghasilan tidak kena pajak antara lain tunjangan keluarga dan tunjangan hari raya. Pengurangan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah penghasilan yang akan dikenakan pajak.

Contoh: Jika seseorang menerima tunjangan keluarga sebesar 5 juta rupiah per bulan, maka pengurangan penghasilan tidak kena pajak dalam setahun adalah 5 juta x 12 bulan = 60 juta rupiah.

3. Mengurangkan Penghasilan Kena Pajak

Setelah mengurangkan penghasilan tidak kena pajak, langkah selanjutnya adalah mengurangkan penghasilan kena pajak. Penghasilan kena pajak adalah pendapatan yang masih dikenakan pajak setelah pengurangan penghasilan tidak kena pajak. Beberapa contoh penghasilan kena pajak antara lain tunjangan jabatan dan penghasilan yang sudah dikenakan pajak sebelumnya. Pengurangan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah penghasilan yang akan dikenakan pajak.

Contoh: Jika seseorang menerima tunjangan jabatan sebesar 3 juta rupiah per bulan, maka pengurangan penghasilan kena pajak dalam setahun adalah 3 juta x 12 bulan = 36 juta rupiah.

4. Menjumlahkan Biaya Pengurangan

Selain penghasilan tidak kena pajak dan penghasilan kena pajak, ada juga biaya pengurangan yang dapat dikurangkan dalam perhitungan pph terutang. Biaya pengurangan adalah biaya-biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak, seperti biaya pendidikan dan biaya kesehatan. Perhitungan biaya pengurangan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah penghasilan kena pajak yang akan dikenakan tarif pajak.

Contoh: Jika seseorang memiliki biaya pendidikan sebesar 10 juta rupiah per tahun dan biaya kesehatan sebesar 5 juta rupiah per tahun, maka penjumlahan biaya pengurangan dalam satu tahun adalah 10 juta + 5 juta = 15 juta rupiah.

5. Mengalikan Jumlah Penghasilan Kena Pajak dengan Tarif Pajak

Setelah mengurangkan semua komponen di atas, langkah selanjutnya adalah mengalikan jumlah penghasilan kena pajak dengan tarif pajak yang berlaku. Tarif pajak yang berlaku dapat berbeda-beda tergantung pada penghasilan bruto dan kategori wajib pajak.

6. Mengurangkan Pph yang Sudah Dibayar Sebelumnya

Jika seseorang atau perusahaan sudah pernah membayar pph sebelumnya dalam satu tahun, maka jumlah pph yang sudah dibayarkan tersebut perlu dikurangkan dari pph terutang yang dihitung. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi penggandaan pembayaran pajak dan sesuai dengan prinsip keadilan dalam sistem perpajakan.

7. Menentukan Pph Terutang

Setelah melalui semua langkah-langkah perhitungan di atas, hasilnya adalah pph terutang yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Pph terutang ini menjadi kewajiban pajak yang harus dipenuhi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Melalui langkah-langkah di atas, seseorang atau perusahaan dapat menghitung pph terutang dengan tepat sesuai dengan kondisi keuangannya. Memahami cara menghitung pph terutang sangat penting bagi setiap wajib pajak agar dapat memenuhi kewajiban perpajakannya dengan benar serta menghindari sanksi dan denda dari pemerintah. Yuk, tetap patuhi kewajiban perpajakan dengan baik dan pahami tata cara perhitungan yang berlaku!

Langkah-langkah Mengajukan Pembayaran Pph Terutang

Setelah menyelesaikan proses pendaftaran sebagai wajib pajak, langkah selanjutnya untuk mengajukan pembayaran Pph terutang adalah mengisi formulir Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan. Formulir ini berisi informasi yang diperlukan untuk menghitung jumlah Pph yang harus dibayarkan. Berikut adalah beberapa langkah detail dalam mengisi formulir SPT:

1. Mengumpulkan informasi penghasilan bruto

Langkah pertama dalam mengisi formulir SPT adalah mengumpulkan informasi tentang penghasilan bruto yang diterima selama satu tahun. Penghasilan bruto adalah jumlah total pendapatan sebelum dikurangi dengan pengurangan-pengurangan tertentu. Informasi ini dapat ditemukan dalam laporan keuangan atau slip gaji selama satu tahun.

Contoh: Penghasilan Bruto

Misalnya, seorang wajib pajak memiliki pendapatan sebesar Rp150.000.000 selama satu tahun. Jumlah ini merupakan penghasilan bruto dan menjadi basis penghitungan Pph terutang.

2. Pengurangan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Setelah mengumpulkan informasi penghasilan bruto, langkah berikutnya adalah menghitung pengurangan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). PTKP adalah jumlah penghasilan yang tidak dikenakan pajak berdasarkan peraturan yang berlaku.

Contoh: Pengurangan PTKP

Misalnya, wajib pajak tersebut memiliki status sebagai pekerja dengan tanggungan keluarga. Berdasarkan peraturan, PTKP untuk wajib pajak dengan status tersebut adalah Rp54.000.000. Jadi, penghasilan bruto yang dikurangi dengan PTKP akan menjadi Rp96.000.000.

3. Pengurangan Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Setelah mengurangi PTKP dari penghasilan bruto, langkah selanjutnya adalah menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP). PKP adalah jumlah penghasilan yang digunakan untuk menghitung jumlah Pph terutang.

Contoh: Pengurangan PKP

Misalnya, wajib pajak tersebut memiliki biaya pengurangan sebesar Rp10.000.000. Jadi, jika penghasilan bruto dikurangi dengan PTKP dan biaya pengurangan, maka akan diperoleh PKP sebesar Rp86.000.000.

4. Menghitung Pph Terutang

Setelah mendapatkan PKP, langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah Pph terutang. Pph terutang adalah jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak berdasarkan PKP.

Contoh: Perhitungan Pph Terutang

Misalnya, tarif Pph untuk PKP sebesar Rp86.000.000 adalah 5%. Dengan demikian, jumlah Pph terutang yang harus dibayar oleh wajib pajak tersebut adalah Rp4.300.000.

5. Melakukan Pembayaran

Setelah mengisi formulir SPT dengan lengkap dan menghitung jumlah Pph terutang, langkah terakhir adalah melakukan pembayaran. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk melakukan pembayaran Pph terutang yaitu melalui bank atau melalui sistem online yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Untuk pembayaran melalui bank, wajib pajak perlu mengunjungi bank yang telah ditunjuk untuk melakukan pembayaran Pph terutang. Wajib pajak harus membawa formulir SPT serta informasi yang diperlukan seperti PKP dan jumlah Pph terutang. Bank akan memberikan bukti pembayaran kepada wajib pajak setelah transaksi selesai.

Untuk pembayaran melalui sistem online, wajib pajak dapat mengakses laman resmi Direktorat Jenderal Pajak dan memilih opsi pembayaran Pph terutang. Wajib pajak perlu mengisi informasi yang diminta seperti PKP dan jumlah Pph terutang. Setelah itu, wajib pajak perlu melakukan transfer melalui internet banking atau membayar menggunakan kartu kredit atau debit.

Jika pembayaran telah berhasil dilakukan, wajib pajak akan mendapatkan bukti pembayaran secara elektronik yang dapat disimpan sebagai bukti pembayaran Pph terutang.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, seseorang dapat mengajukan pembayaran Pph terutang dengan mudah dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penting untuk selalu mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan melengkapi semua persyaratan yang diperlukan.

Ketika mengisi formulir SPT, pastikan untuk memeriksa kembali setiap informasi yang dimasukkan agar tidak terjadi kesalahan perhitungan. Jika ada pertanyaan atau kesulitan dalam mengisi formulir SPT, sebaiknya konsultasikan dengan petugas pajak terdekat untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan.

Tips Mengelola Pph Terutang

1. Membuat perencanaan keuangan

Dalam mengelola pph terutang, penting untuk membuat perencanaan keuangan yang baik. Hal ini melibatkan pengaturan penghasilan, pengurangan pengeluaran, dan penyisihan dana untuk pembayaran pph. Perencanaan keuangan yang matang akan membantu mengatur keuangan Anda dengan baik dan memastikan Anda memiliki dana yang cukup untuk membayar pph terutang secara tepat waktu.

Misalnya, Anda dapat membuat anggaran bulanan yang mencakup penghasilan dan pengeluaran Anda. Dengan melakukan ini, Anda dapat dengan mudah melacak penghasilan dan pengeluaran Anda setiap bulan serta mengetahui berapa banyak yang harus disisihkan untuk pembayaran pph.

Emoji: ?

2. Memahami undang-undang perpajakan

Mengetahui undang-undang perpajakan yang berlaku sangat penting agar Anda dapat mengoptimalkan pengurangan penghasilan dan menghindari potensi sanksi pajak. Undang-undang perpajakan sering kali kompleks dan sulit dipahami oleh orang awam, oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mempelajari peraturan dan peraturan perpajakan yang berlaku.

Anda dapat mulai dengan mempelajari undang-undang pajak yang berlaku di negara Anda atau memperoleh bantuan dari ahli pajak profesional seperti konsultan pajak. Dengan memahami undang-undang perpajakan, Anda dapat mengetahui cara mengoptimalkan pengurangan penghasilan, memanfaatkan insentif pajak, dan menghindari pelanggaran perpajakan.

Emoji: ?

3. Menggunakan jasa konsultan pajak

Jika Anda merasa kesulitan mengelola pph terutang, sangat disarankan untuk menggunakan jasa konsultan pajak yang ahli dalam bidang perpajakan. Konsultan pajak dapat memberikan saran dan bantuan untuk memastikan pph terutang dihitung dengan benar dan dibayarkan tepat waktu.

Seorang konsultan pajak dapat membantu Anda dalam berbagai hal termasuk perencanaan perpajakan, pengurangan beban pajak, penyusunan laporan keuangan, dan penanganan permasalahan perpajakan. Dengan menggunakan jasa konsultan pajak, Anda dapat memiliki keyakinan bahwa pph terutang Anda dikelola secara profesional dan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

Emoji: ?‍?

Dalam mengelola pph terutang, penting untuk memiliki perencanaan keuangan yang baik, memahami undang-undang perpajakan, dan menggunakan jasa konsultan pajak. Dengan melakukan langkah-langkah ini, Anda dapat memastikan pembayaran pph terutang dengan benar dan tepat waktu serta mencegah masalah perpajakan di masa depan.

Emoji: ?

Check Also

Cara Mengubah Kuota Belajar Menjadi Kuota Utama Indosat

Dalam era digital seperti sekarang ini, kuota internet menjadi salah satu bahan pokok yang sangat …